Focus Group Discussion (FGD) Pembiayaan Usaha Kehutanan Skema Bagi Hasil Pada Catchment Area Waduk Gajah Mungkur Dan Das Hulu Bengawan Solo, Kab. Wonogiri

 Jakarta – Konsep Rehabilitasi Hutan dan Lahan dewasa ini sudah menjadi bagian dari pengelolaan hutan yang lestari. Berbagai aspek pengelolaan hutan yang lestari juga tidak terbatas pada pemanfaatan hasil hutan baik kayu maupun non kayu. Pemanfaatan hasil hutan bermuara pada pengembangan usaha kehutanan yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata akan tetapi juga berpihak terhadap keberlanjutan potensi hutan tanpa meninggalkan asas konservasi dan efektifitas penggunaan bahan baku. Pengembangan usaha kehutanan melalui budidaya tanaman hutan pada catchment area Waduk Gajah Mungkur dan DAS hulu Bengawan Solo merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan fungsi waduk sebagai penyedia air, sekaligus mendukung penyediaan bahan baku kayu untuk industri serta meningkatkan pendapatan masyarakat.

Gambar 1. Arahan dan pembukaan kegiatan oleh Kepala Pusat P2H

Badan Layanan Umum Pusat P2H Kementrian LHK memiliki tugas pokok mengelola fasilitas dana bergulir untuk mendukung pembiayaan usaha kehutanan dan investasi lingkungan. Salah satu skema pembiayaan yang disediakan oleh BLU Pusat P2H adalah Fasilitas Dana Bergulir (FDB) skema bagi hasil.

Fasilitas Dana Bergulir (FDB) Skema Bagi Hasil yang dimiliki oleh BLU-Pusat P2H dapat menjadi salah satu alternatif sumber pembiayaan untuk mendukung pengembangan usaha kehutanan pada catchment area  dan daerah hulu sungai. Untuk itu, BLU Pusat P2H melaksanakan Diskusi Kelompok Terfokus (Focus Group Discussion/FGD) dalam rangka pembiayaan budidaya skema bagi hasil pada catchment area dan DAS hulu Bengawan Solo di Kabupaten Wonogiri. Kegiatan ini bertujuan untuk memperoleh calon-calon pengelola dan lokasi usaha kehutanan yang prospektif dan siap untuk mengakses FDB BLU Pusat P2H.

Kegiatan FGD dilaksanakan selama 2 (dua) hari mulai tanggal 16 s.d 17 Februari 2017 di Hotel Best Western, Solo, Prov. Jawa Tengah dengan jumlah peserta yang hadir sebanyak 50 (lima puluh) orang. Kegiatan ini diawali dengan pemaparan mengenai cakupan usaha kehutanan yang dapat dibiayai melalui skema bagi hasil oleh BLU-Pusat P2H. Kemudian disajikan data riil mengenai luas green belt di sekitar Waduk Wonogiri yang berpotensi untuk dibiayai FDB oleh Perum Jasa Tirta I sebagai pemegang hak kelola dan penyajian luas lahan kritis di sekitar DAS hulu Bengawan Solo.

Gambar 2. Paparan dari para pelaku usaha kehutanan

Penyajian potensi peluang pasar usaha kehutanan disampaikan PT. Albasia Alam Asri dan PT. Darma Prema Bioenergy.

Kegiatan ini juga menghadirkan Koperasi Hutan Rakyat Raja Jabon Indonesia (KHR-RJI) sebagai pengelola yang telah memperoleh FDB Bagi Hasil dari BLU Pusat P2H untuk berbagi pengalaman mengenai pendanaan dalam melaksanakan proses Fasilitas Dana Bergulir. Selain menghadirkan narasumber, pada FGD ini juga dihadiri oleh pemangku kebijakan (BLU-Pusat P2H, BPDAS Solo, Balai Pengelolaan Hutan Wil. IX Jawa Tengah); pelaku usaha kehutanan (KPH Surakarta Perum Perhutani, calon pengelola skema bagi hasil, industri pengolah hasil hutan); dan petani (pemilik lahan, penggarap dan LMDH).

Gambar 3. Penyajian data potensi luas lahan di sekitar DAS Begawan Solo

Kegiatan diakhiri dengan pembahasan mengenai rencana aksi

top